Search This Blog

Friday, November 26, 2010

Metaphora


Mimpi


Sebuah mimpi sebenarnya adalah sebuah kenyataan...karena dia hidup bersama pikiran kita di dalam jangka waktu yang cukup panjang. Ia nyata seperti halnya diri kita. Ia berproses sesuai siklus dan perjalanan kehidupan kita. Pada suatu saat dia terhempas di atas batu cadas kenyataan pahit, lalu kadangkala sesekali menikung di jalan lain...atau pergi menyusuri labirin dan terlupakan. Namun tidak pernah benar-benar lenyap dan punah. Aku selalu percaya mimpi adalah sebuah kenyataan yang tertunda...

Aku dan mimpiku adalah sebuah kenyataan. Aku membawa mimpiku, kemarin, hari ini, sekarang dan nanti. Seperti kelindan yang bergumul bersama, sehingga ia merasuk mengubah dirinya menjadi aku setiap saatnya. Begitu pula aku masuk ke dalam mimpiku laiknya seseorang menuju sebuah pintu gerbang yang terbuka dan merasakan sebuah perjalanan tanpa hambatan, karena ia adalah bagian dari kepemilikkanku, bukan ranah orang lain. Saat orang lain mengingatkanku bahwa mimpi adalah sebuah fatamorgana, aku menolaknya. Mimpiku menjadi kenyataan setiap waktu. Bagiku ia adalah butiran darah yang menggeliat. Ia adalah sel yang meregenerasi dirinya. Ia punya cahaya pedang yang berkilat menembus matahari. Ia adalah cercah kehidupan yang membuatku bertahan melalui epaorasi

Aku bukan bermimpi bahkan tidak memimpikan sesuatu, atau pun bermimpi-mimpi tentang sebuah impian. Karena bagiku mimpi adalah kenyataan setiap saatnya. Ia hanya sebuah jeda sesaat dalam sebuah rangkaian proses. Mimpi adalah kenyataan tentang aku yang tertunda...

Aku menanti penuh intens, menemukan kunci-kunci dari kehidupan masa laluku yang sudah lampau dan terlewati tanpa tercatat di dalam benak dan ingatanku. Aku menemukan sebuah rangkaian -- mata rantai kehidupan. Bukan dalam bentuk dongeng-dongeng di perpustakaan (yang akan aku tolak sepenuhnya). Ini mungkin lebih kepada sebuah legenda hidup, tidak ada hal lainnya. Namun ini juga soal kekinian. Sekarang. Bumi ini pada saat ini. Bisa saja merupakan seorang perempuan atau laki-laki. Manusia yang ada kini. Ini berkaitan dengan bahasa, keimigrasian, kesusasteraan, seni dan kesenian. Dalam artikulasi lebih luas mungkin saja menyangkut benda-benda artifisial seperti kapal, mesin-mesin, politik, kepercayaan, pengembangan ilmu-ilmu modern atau bahkan hubungan antar bangsa. Peradaban. Serta semua yang terjadi pada hari ini...sebuah masa.

Mimpi adalah juga sebuah keajaiban. Entah mengapa dia sanggup hidup jutaan bahkan mungkin dengan angka miliaran digital di dalam kepala seorang manusia. Tepatnya dalam kehidupan manusia. Bagiku mimpi adalah bagian dari keajaiban. Bagiku satu detik peristiwa yang melompat di hadapanku adalah keajaiban. Ketika aku melangkah di pantai, dan kakiku menyentuh pasir dan hangatnya air laut terasa masuk ke dalam jiwaku. Membuat puisi serta pemikiran terlahir dari benakku, adalah keajaiban. Atau bahkan ketika aku menikmati makanan yang tersaji. Melintasi pejalan kaki di pelintasan antara gedung-gedung tinggi. Mengusap airmata tangis. Mendengarkan detak detik jarum jam di dinding...Ikan-ikan yang berenang di setiap lautan yang berbeda...Semua adalah hal-hal asing. Hal-hal ajaib. Hal-hal mimpi. Namun tetap adalah kenyataan.

Aku tidak pernah sungguh-sungguh menyadari kapan sebenarnya sebuah inti-pati pemikiran ini, mengintip dalam kehidupanku. Mengendap-endap mencuri setiap helai pemikiranku. Melakukan investigasi dan memantau diriku di setiap detiknya, bahkan melalui nafasku. Sehingga ia menjadi intrinsik di dalamku. Seolah-olah aku tidak memiliki insulator (penyekat) apa pun di dalam kehidupanku. Mimpi itu sudah berubah bentuk menjadi aku. Aku berada di dalam lipatan yang belum terlipat sepenuhnya. Menemukan hidup ini selalu ada jeda. Selalu ada antara. Mungkin kita menyebutnya sebagai sekat. Atau mungkin semacam membran. Aku menamakannya sebagai waktu. Ya. Aku melintas di antara jeda. Aku sang pelintas waktu. Pengembaraan kosmik membawaku ke sini.

"Aku adalah orang pertama bagi diriku sendiri". kataku pada diriku sendiri. "Tentu saja bukan", jawab mimpiku. Ah sebuah percakapan yang membosankan, berulangkali lunglai di dalam lintas waktuku. "Aku sedang mencoba memisahkan aku dengan mimpiku". ujar diriku lagi berulangkali. "Ini sebuah kenyataan yang tak lekang oleh waktu , serta tak terurai oleh zat waktu", ujar mimpiku lagi. "Kau adalah aku, dan... aku adalah kenyataan dirimu", mimpiku menegaskan.

Aku telah berusaha sejak dulu untuk mengidentifikasi diriku tanpa mimpiku turut serta. Tapi suara yang muncul dari dalam nuraniku begitu kencang, Padahal aku juga berusaha untuk menentang kehadiran mimpi di dalam "pandangan" perilaku yang berbeda. Ini, adalah sebuah monolog yang tiada berkesudahan sepanjang kehidupanku.

Aku berusaha memutus mata rantai ini sejak lama. Berusaha membagi pelbagai bentuk. Fragmentasi. Bersetuju dengan teori yang ada....hingga;
"Akhirnya aku menemukan diriku bukan kesendirian di dalam sebuah semesta yang demikian besar untuk memutuskan, aku akan tetap bersama mimpiku".
"Mimpiku tidak akan mengganggu aku, bahkan tak akan melenyapkan diriku".
"Engkau adalah kekosonganku dan keter-isi-anku".
"Engkau tidak memerlukan penjelasan apa pun!".

Begitu banyak hal dalam hidup ini kulalui. Kepedihan dan kebahagiaan. Begitu banyak makna yang coba kupahami. Begitu banyak kebodohan melintasi pikiran, dan begitu banyak kesempatan telah menjadi bagian dari jejak kehidupanku. Namun tak semua pernah kumengerti dalam arti sebenarnya....Aku masih memerlukan begitu banyak kosa kata dan terminologi agar dapat membentuk garis lurus atau melengkung mengguratkan esensi identitas perjalanan itu sendiri. Mimpi dan kenyataan...Dan tentunya identitasku.

Kini aku dan mimpiku sedang berada di sebuah negara bernama Indonesia...Membentangkan mimpiku seluas jagadnya. Konon negeri ini dahulu adalah sebuah kerajaan Atlantis yang luar biasa luasnya dan menghasilkan sebuah peradaban yang tak terbantahkan!

Jiwa

Menyadari aku dan jiwaku, berbeda dengan aku dan mimpiku. Tapi satu hal yang tak bisa kupungkiri kesamaannya adalah jiwa dan mimpiku tidak akan pernah mati. Aku yakin saat Pythagoras mengatakan itu limaratus tahun sebelum Masehi....bahwa itu benar. Dan saat ini, aku menyatakan persetujuanku bahwa hal itu benar.

Ada sebuah keadaan dimana aku merasakan bahwa ada sebuah "ketetapan" yang datang padaku. Mungkin persis seperti engkau merasakan bernafas secara normal. Tentang: "Bahwa engkau adalah sesuatu. Engkau akan menjadi sesuatu". "Engkau akan mengalami suatu proses kehidupan yang menyakitkan". "Engkau akan melalui banyak periode membingungkan dalam hidupmu". Dan, ketetapan-ketetapan lain yang seperti laiknya mimpi namun dibahasakan dalam jiwa....yang pada kesadaran berikutnya merupakan proses kehidupan yang kulalui.

Tidak cukup mudah melalui pemahaman berliku dengan paradigma pekat (ganting), yang ketika jiwaku nelangsa, aku kehilangan aturan mainnya (pakem). Jiwa inti-pati mengikat kelangsunganku bersama mimpiku. Aku, adalah sebuah kenyataan. Aku terperangkap dalam tubuh. Tubuh manusia. Jiwa adalah ruh yang melesat menempuh ruang-ruang dan waktu-waktu yang tak sempat kumiliki. Atau tepatnya tak kusadari sepenuhnya. Jiwaku menjadi a-krodati dalam tubuh ringkihku. Kebenaran itu dapat kutemukan dengan cara berpikirku bukan perbuatanku atau bahkan perbuatan orang lain.

Substansi jiwa dan mimpi kurasakan dalam diriku. Aku terhubung! Bahkan aku terhubung dengan Aristoteles yang mungkin hidup dalam lampaunya tigaratus tahun sebelum Masehi, seorang murid Plato. Dalam sebuah pergulatan pemikiran yang aneh. Aku terhubung dengan dia, seperti halnya telepon seluler. Aku bercakap-cakap dalam percakapan yang panjang.... Serta berbahasa multi-dimensional....Aku berusaha keras untuk memisahkan jiwa dan tubuhku. Jiwa dan mimpiku. Tubuhku mengalah! Walau mereka tetap menjadi sebuah kesatuan yang tidak mudah dibinasakan.

Kosmos

Aku berada di dalam sebuah keanekaragaman alam dan semesta. Amplitudo bumi. Menemukan betapa dimensi kekasaran dan seksualitas bumi mencekam pemahamanku. Ia memberikan keseimbangan tanpa harus memandang keluar dari jendela mata untuk mencari alasan lainnya. Bila ingin tetap bertanya; dunia sudah berisi penuh dengan orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Ini adalah kemegahan Tuhan memegang kekuasaan, memberi proporsiNya pada pengetahuan tentang realisme, spiritualisme, dan estetika atau intelektual manusia. Dan manusia memandang kepemilikkan tubuh seseorang adalah satu paket dengan mimpi dan jiwanya.....

"Mengapa aku juga mengatakan demikian?" . "Mengapa aku melakukan pembenaran itu?". "Mengapa aku harus menyentuh begitu dekat hal-hal yang demikian subjektif dan penuh kebimbangan?". "Dapatkah aku melepaskan keterikatan dari pemikiran itu?". Semua pertanyaan tersebut selalu merayapi tubuh dan jiwaku. Aku menjadi kembara yang tak lekang berfikir. Aku sudah menjadikan diriku objek sesungguhnya dari sebuah pencarian. Pencarian absurd tentang diriku sendiri!

Sesungguhnya aku tidak memiliki pencapaian apa pun untuk menceritakan tentang diriku. Hanya dengan sebuah kepercayaan yang begitu kental, bahwa aku akan menemukan tujuan akhir dan penemuan yang pasti. Tentang konspirasi aku, jiwa dan mimpi. Tentang sebuah ketetapan Sang Maha Pemilik seluruh muasal kosmik ini. Aku hanya sebutir zarah tak berdaya. Bergulir ke sana kemari mencoba menemukan arti. Bermain dalam logika. Terjerembab di kedangkalan pengetahuan jagad raya. Aku memasuki sebuah peradaban cerita. Cerita kehidupanku sendiri. Akulah si tokoh itu....



Bila ini dapat kusebut sebagai Prolog!

Aku berdiri anggun sambil melangkah berjalan menuju dirinya, yang terduduk dalam keadaan cerah dan tersenyum penuh kehangatan ke arahku. Menundukkan diriku dalam posisi bersidepuh, memegang erat telapak tangannya...lalu mencium punggung tangan kanannya dengan posisi khidmat. Perasaan terkendali, kuucapkan sebuah kata yang sudah terasa ringan kuuucapkan: "Aku mencintaimu, sepenuhnya! dan kini saatnya untuk mengakhiri semua ini dengan penuh kelegaan".

Lelaki itu, dalam posisi duduknya, meraih wajahku, lalu mengecup keningku...dan mengatakan: "Ya, aku juga memahami sepenuhnya". Kunikmati kecupannya dengan rasa hangat mengalir dalam dadaku. Gemuruh tapi pelan, yang mengalun indah....

Aku melangkah keluar ruangan dengan perasaan seringan awan, secerah burung terbang ke udara ketika pagi hari. Seungkap rasa melambung. Penuh pemahaman yang mungkin saat ini hanya aku yang bisa mengerti mengapa ini harus aku rasakan.

Hujan di luar gedung turun seperti memuntahkan isi bendungan...Kulihat sisa awan masih menggantung di sisi langit yang lain di sebelah barat kota. Hitam pekat. Aku pikir sebentar lagi hujan yang sama lebatnya akan turun di sana...Di belahan kota, ada seseorang yang punya perasaan sama sekali berbeda dengan yang kurasakan saat ini.

Dengan payung kecilku, aku bergegas pergi menuju mobil. Aku masih harus melakukan perjalanan sejam lagi menenuhi janji mungkin akan sama pentingnya dengan pertemuan yang baru saja kulalui.

Hari ini, sebuah anugerah bahagia. Apa yang terjadi...pernah terjadi lebih dari sekali...namun makna yang muncul dalam setiap peristiwanya selalu berbeda.....

Aku melangkah dengan langkah-langkah kecil yang cepat. Setengah berlari, membuka pintu mobil. Membenamkan diriku dalam kursi mobil yang memberi sedikit suara gesek-derit di jok kulitnya. Kendaraan ini sudah seperti teman baikku, mengantarkanku ke banyak tempat....
Terdiam sejenak, menghela nafas, lalu menyesap doa. Sekelabat kulihat diri lelaki itu keluar dari ruangan, melintasi koridor gedung. Kelihatannya seperti ingin memastikan aku berangkat dan tidak kehujanan. Kukekenakan sabuk pengaman. Sesaat radio kesayanganku memperdengarkan alunan lagu Michael Bubble; Feeling Good...

Birds flying high you know how I feel
Sun in the sky you know how I feel
Breeze driftin' on by you know how I feel

It's a new dawn
It's a new day
It's a new life
For me
And I'm feeling good

Fish in the sea you know how I feel
River running free you know how I feel
Blossom in the trees you know how I feel

It's a new dawn
It's a new day
It's a new life
For me
And I'm feeling good

Dragonflies out in the sun you know what I mean, don't you know
Butterflies all havin' fun you know what I mean
Sleep in peace when the day is done
And this old world is a new world
And a bold world
For me

Stars when you shine you know how I feel
Scent of the pine you know how I feel
Oh freedom is mine
And I know how I feel

It's a new dawn
It's a new day
It's a new life
For me
And I'm feeling good

Kujalankan kendaraan dan melesat dengan kecepatan sedang...kupikir aku tidak sedang berpacu dengan waktu. Aku sedang menikmati detak jantungku berlagu...
Sambil mengingat mundur jalan hidupku...rasanya aku bahkan lupa punya keinginan digelimangi perasaan mencinta seperti ini.

Sunday, November 16, 2008

Searching out the "truth"

Sometimes, of course, it just doesn't happen
No matter how hard you drive your "truth"
there are no sagacity come...

Sometimes, we are going down depression
to understood, is it the "truth" as is?
then can drag us down into no where...

We force ourself to achieve that effort
but reality comes
we extract the theory
desperately looking up the point

After in depth in our "rooms"
how, then,
do we capture this elusive
but vital ingredients?

...truth,
the only one that we understand!

No!
the truth is only the truth itself
even we found the "vortex" yet!

Tuesday, November 11, 2008

Do you feel me?

Have you feel lost
and tossed on the sea of life?
I just feel it....
feel that I need someone
who can get me through this storm!

But, maybe this "chaos emotion"
a learning point of my life
for the future..
an obstacle to grow stronger
through the twists and turns way

Decision to do now or never
even looks at things differently

It comes one step
closer to the "goal"

Nothing is impossible,
I accept what I have to,
face a destiny
for me no decision is too small
no action is too stupid
I asking God about
just for sure

Really, it isn't easy way dear...
experienced in failure
dark and dreary
struggling
pain and sorrow

But once I take it
I brighten myself after
with compassion...

Saturday, November 8, 2008

Obama Mania & Myself

Dear Idol,

You can only make one success of yourself,
but you can help make many successes
by inspiring and encouraging others....

Dear Myself,

There's a silver lining in everything that happens,
and in every person too.
So, challenge yourself with
finding it and you'll start
too see life in a better light...

From Obama, I've learnt:

Treat every obstacle as a rung in the ladder of success,
and you'll keep
moving up and onward to
bigger and better things...

For Myself, I say:

Keep your head in the clouds,
your feet on the ground,
and your heart in the middle
to balance the two...

Tuesday, September 23, 2008

On Marsha's Birthday: September 22, 2008

My choice poem for you, D dearest;
from Sitok Srengenge "ON NOTHING"

OSMOSIS OF ORIGIN

I ask the wind,
whence does reverie come,
the wind shakes the tips of leaves
and I see the tree paint the cycle of years

I ask the tree,
whence does time begin,
the tree opens up its flower petals
and I see a bee alight down sucking honey


I ask the bee,
whence does the cell that begat my body originate,
the bee hums flying into a cave
and I see a bat shut its ears upon a stone wall

I ask the bat,
whence does sound emerge,
the bat flaps its wings up to the night sky
and I see dew glide down like a river

I ask the river,
whence does the source of milk flows,
the river shows off the mountain
and I see a valley shrouded in mist

I ask the valley,
whence does taboo arrive,
the valley raises its shroud
and I see the naked earth swing in elegance

I ask the earth,
who does give birth to Mother,
the earth blushes, but I hear the sea answer,
"She witnesses upon fact, yet is incapable of utterance!"

I ask the sea,
who does contain her,
the sea roars, yet it drained
before completely spelling the Name

page 195-197

(aku bertanya kepada angin, dari mana asalnya angan, angin menggoyangkan pucuk-pucuk daun, dan kusaksikan pohon-pohon melukis lingkaran tahun, aku bertanya kepada pohon, dari mana datangnya waktu, pohon merekahkan kelopak bunga, dan kusaksikan lebah hinggap menghisap madu, aku bertanya kepada lebah, dari apa sel yang tumbuh dalam tubuhku, lebah bergumam terbang ke dalam gua, dan kusaksikan kelelawar menangkup kuping di dinding batu, aku bertanya kepada kelelawar, dari mana awalnya suara, kelelawar mengepak sayap ke langit malam, dan kusaksikan embun bergulir serupa sungai, aku bertanya kepada sungai, dari mana sumber air susu, sungai menjulangkan gunung, dan kusaksikan lembah bergaun kabut, aku bertanya kepada lembah, dari mana mulanya tabu, lembah menyingkap gaun, dan kusaksikan bumi bugil menggeliat anggun, aku bertanya kepada bumi, siapa yang melahirkan ibu, bumi tersipu tapi kudengar laut menyahut, "ia bersaksi atas fakta, namun tak berdaya untuk bicara!", aku bertanya kepada laut, siapa yang menampungnya, laut menggelora, tapi kerontang sebelum usai membilang Nama)

Friday, September 12, 2008

Mencatat Tatal 96 nya Goenawan Mohamad

96

Sebuah lelucon Groucho Marx, ketika ia diminta menunjukkan kartu identitasnya: "Maaf, aku tidak punya foto. Tapi tuan bisa ambil jejak kakiku. Itu ada di kaos kakiku."

Ada foto, ada jejak kaki.

Yang pertama perwujudan diri yang terang. Tapi yang sering dilupakan: foto adalah sebuah kelaziman manusia selama ribuan tahun untuk menuntut visualisasi-tuntutan yang kian meluas sejak Plato. Kita hidup dalam kebudayaan okulosentris hampir sepenuhnya kita mengartikan yang "diketahui" sama dengan yang "tampak", dan segala sesuatu yang berkaitan dengan "mata" pun berjibun memenuhi bahasa...

Kebudayaan okulosentris memang mendatangkan pelbagai teknologi visual yang menakjubkan. Tapi ada sejarah kekuasaan yang tak dapat diabaikan ketika ruang dibaca sebagai peta, Sabda sebagai Kitab, dan gelap dianggap kekurangan. Seperti kata Derrida,
"Ada pertemanan yang kuno dan rahasia antara cahaya dan kekuasaan."

Sebuah foto adalah hasil sebuah proses yang agresif; mereka memakai kata shooting dan shot di sini. Sebagai tanda identitas, ia disahkan oleh kekuasaan yang menyusup tata simbolik-bahasa, hukum, adat, negara. Ia dipatok dan dikerangka oleh tata itu. "Hai, lihat, orang Negro!" seru seorang anak kecil di sebuah jalan di Paris waktu melihat Franz Fanon lewat. Fanon dengan segera tahu, siapa gerangan dirinya tak ditentukannya sendiri.

Itu sebabnya ucapan Groucho Marx, seraya melawak, merupakan perlawanan. Ia tak meletakan foto dalam posisi yang menentukan. Ia menunjuk unsur kedua dalam dikotomi kita: jejak kaki di kaos kaki...

Yang terbayang dari kata-kata itu adalah bekas perjalanan, tanda-tanda yang maknanya serba mungkin, dan sesuatu yang besok bisa terhapus oleh perjalanan baru.

hal 156 dari buku Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad, 2008.